Selasa, 24 Juli 2012


Melaksanakan Shalat Tarawih Terlalu Cepat[1].
Fatwa Syekh DR. Yusuf al-Qaradhawi.

Pertanyaan:
Apa aturan melaksanakan shalat Tarawih terlalu cepat?

Jawaban:
Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim dinyatakan dari Rasulullah Saw bahwa dia bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Siapa yang melaksanakan Qiyamullail di bulan Ramadhan lantaran keimanan dan hanya mengharapkan jawaban dari Yang Mahakuasa Swt, maka diampuni dosanya yang telah lalu”. Yang Mahakuasa Swt mensyariatkan puasa di siang hari bulan Ramadhan dan lewat pengecap nabi-Nya Ia syariatkan Qiyamullail di malam bulan Ramadhan. Qiyamullail ini dijadikan sebagai penyebab kesucian dari dosa dan kesalahan. Akan tetapi Qiyamullail yang sanggup mengampuni dosa dan membersihkan dari noda ialah yang dilaksanakan seorang muslim dengan tepat syarat-syarat, rukun-rukum, budbahasa dan batasannya. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa thuma’ninah ialah salah satu rukum dari rukun shalat, sama ibarat membaca al-Fatihah, ruku’ dan sujud. Ketika seseorang melaksanakan shalat dengan cara yang tidak baik di hadapan Rasulullah Saw, tidak melaksanakan thuma’ninah, Rasulullah Saw berkata kepadanya, “Kembalilah, shalatlah kembali, lantaran bahwasanya engkau belum shalat”. Kemudian Rasulullah Saw mengajarkan bagaimana shalat yang diterima Yang Mahakuasa Swt seraya berkata:
ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا
Ruku’lah sampai engkau thuma’ninah dalam ruku’, kemudian bangkitlah sampai engkau i’tidal berdiri. Kemudian sujudlah sampai engkau thuma’ninah dalam sujud. Kemudian bangkitlah sampai thuma’ninah dalam keadaan duduk. Kemudian lakukanlah itu dalam semua shalatmu”. (HR. Al-Bukhari, Muslim dan para penyusun kitab as-Sunan, dari hadits Abu Hurairah ra).
Thuma’ninah dalam semua rukun ialah syarat yang mesti ada. Batasan thuma’ninah yang disyaratkan, para ulama berbeda pendapat dalam persoalan ini. Sebagian ulama menetapkan kadar thuma’ninah minimal satu kali Tasbih, contohnya ibarat mengucapkan kalimat:
سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى
Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi”.
Sebagian ulama ibarat Imam Ibnu Taimiah mensyaratkan kadar Thuma’ninah dalam ruku’ dan sujud kira-kira tiga kali Tasbih. Dalam hadits disebutkan bahwa membaca Tasbih tiga kali dan itu ialah batas minimal, oleh lantaran itu mesti ada thuma’ninah kira-kira tiga kali Tasbih. Yang Mahakuasa Swt berfirman:
ôs% yxn=øùr& tbqãZÏB÷sßJø9$# ÇÊÈ   tûïÏ%©!$# öNèd Îû öNÍkÍEŸx|¹ tbqãèϱ»yz ÇËÈ
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya”. (Qs. Al-Mu’minun [23]: 1 – 2).
Khusyu’ ada dua jenis:
Khusyu’ badan dan khusyu’ hati.
Khusyu’ badan ialah tenangnya badan dan tidak melaksanakan perbuatan sia-sia, tidak menoleh ibarat menolehnya srigala. Tidak ruku’ dan sujud ibarat patokan ayam. Akan tetapi melaksanakan shalat dengan rukun-rukun dan batasan-batasan sebagaimana yang disyariatkan Yang Mahakuasa Swt. Oleh lantaran itu mesti ada khusyu’ badan dan khusyu’ hati.
                Makna khusyu’ hati ialah menghadirkan keagungan Yang Mahakuasa Swt, yaitu dengan merenungkan makna ayat-ayat yang dibaca, mengingat akhirat, mengingat sedang berada di hadapan Yang Mahakuasa Swt. Yang Mahakuasa Swt berfirman dalam sebuah hadits Qudsi, “Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Ketika seorang hamba mengucapkan:
ßôJysø9$# ¬! Å_Uu šúüÏJn=»yèø9$# ÇËÈ
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”. (Qs. Al-Fatihah [1]: 2). Yang Mahakuasa Swt menjawab:
حَمِدَنِى عَبْدِى
Hamba-Ku memuji-Ku”.
Ketika hamba itu mengucapkan:
Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$# ÇÌÈ
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. (Qs. Al-Fatihah [2]: 3). Yang Mahakuasa Swt menjawab:
أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى
Hamba-Ku memuji-Ku”.
Ketika hamba itu mengucapkan:
Å7Î=»tB ÏQöqtƒ ÉúïÏe$!$# ÇÍÈ
Yang menguasai di hari Pembalasan”. (Qs. Al-Fatihah [1]: 4). Yang Mahakuasa Swt menjawab:
مَجَّدَنِى عَبْدِى
Hamba-Ku memuliakan-Ku”.
Ketika hamba itu mengucapkan:
x$­ƒÎ) ßç7÷ètR y$­ƒÎ)ur ÚúüÏètGó¡nS ÇÎÈ
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”. (Qs. Al-Fatihah [1]: 5). Yang Mahakuasa Swt menjawab:
هَذَا بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ
Ini antara Aku dan hamba-Ku. Hamba-Ku mendapat apa yang ia mohonkan”.
Ketika hamba itu mengucapkan:

 $tRÏ÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ 

Sumber http://somadmorocco.blogspot.co.id/


EmoticonEmoticon