Sabtu, 12 Mei 2012

قال أصحابنا ولو حضرت الصلاة المكتوبة وهم سائرون وخاف لو نزل ليصليها علي الارض الي القبلة انقطاعا عن رفقته أو خاف علي نفسه أو ماله لم يجز ترك الصلاة وإخراجها عن وقتها بل يصليها على الدابة لحرمة الوقت وتجب الاعادة لانه عذر نادر هكذا ذكر المسألة جماعة منهم صاحب التهذيب والرافعي وقال القاضى حسين يصلي علي الدابة كما ذكرنا
Para ulama mazhab Syafi’i berpendapat: bila waktu shalat wajib telah tiba, mereka dalam perjalanan, bila turun (dari binatang tunggangan) untuk shalat menghadap kiblat, khawatir terpisah dari rombongan atau khawatir terhadap diri sendiri atau khawatir terhadap harta benda, dihentikan meninggalkan shalat dan melakukan shalat di luar waktu, akan tetapi orang tersebut melakukan shalat di atas binatang tunggangannya untuk menghormati (kemuliaan) waktu shalat, shalat tersebut wajib diulang, lantaran alasannya ialah alasan yang jarang terjadi, demikian problem ini disebutkan oleh sekelompok dari kalangan mazhab Syafi’I, diantara mereka ialah pengarang at-Tahdzib dan Imam ar-Rafi’i. al-Qadhi Husein berkata: “Tetap melakukan di atas binatang tunggangan”, menyerupai yang kami sebutkan.
(Sumber: al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab, juz.3, hal.242).

Pendapat Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin saat mentafsirkan surat al-Baqarah: 239:
أما في حال الأمن فلا تجوز الصلاة على الراحلة إلا النافلة، إلا إذا تمكن من الإتيان بالصلاة على وجه التمام فإنه يجوز، ولهذا جوزنا الصلاة في السفينة، وفي القطار، وما أشبه ذلك، لأنه سيأتي بها على وجه التمام بخلاف الراحلة من بعير، وسيارة، وطائرة إلا أن يكون في الطائرة مكان متسع يتمكن فيه من الإتيان بالصلاة كاملة: فتصح، لكن إذا خاف الإنسان خروج الوقت يصلي على أي حال ـ ولو مضطجعاً ـ في أيّ مكان. انتهى
Adapun dalam kondisi aman, dihentikan shalat diatas binatang tunggangan, kecuali shalat sunnat, kecuali bila shalat diatas kenderaan itu sanggup dilaksanakan dengan cara shalat yang sempurna, maka boleh, oleh lantaran itu kami membolehkan shalat di atas perahu, di atas kereta api, dan yang sejenisnya, lantaran orang yang shalat tersebut sanggup melakukan shalat secara sempurna, berbeda dengan shalat di atas binatang tunggangan (kenderaan) menyerupai unta, mobil, pesawat, kecuali bila di pesawat itu ada daerah yang luas yang sanggup melakukan shalat secara tepat di daerah tersebut, maka shalatnya sah. Akan tetapi, bila seseorang khawatir akan keluar dari waktu shalat, maka ia sanggup melakukan shalat dengan posisi apa pun, meskipun berbaring, dan di mana pun, selesai.

Sumber http://somadmorocco.blogspot.co.id/


EmoticonEmoticon