Disusun Oleh:
H. Abdul Somad, Lc., MA.
(S1 Al-Azhar, Mesir. S2 Darulhadis, Maroko. Dosen UIN Suska).
Pertanyaan: Apakah dalil shalat sunnat Tasbih?
Jawaban: Dalil pelaksanaan shalat sunnat Tasbih berdasarkan sabda Rasulullah Saw:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ « يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلاَ أُعْطِيكَ أَلاَ أَمْنَحُكَ أَلاَ أَحْبُوكَ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ قَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ صَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ سِرَّهُ وَعَلاَنِيَتَهُ عَشْرَ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّىَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِى أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوعِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَهْوِى سَاجِدًا فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُولُهَا عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِى كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى عُمُرِكَ مَرَّةً ».
Dari Ibnu Abbas, sebetulnya Rasulullah Saw berkata kepada al-‘Abbas bin Abdul Muththalib: “Wahai ‘Abbas, wahai paman, maukah engkau saya berikan, sudikah engkau saya lakukan sesuatu terhadapmu 10 kasus jikalau engkau mau melakukannya; Tuhan mengampuni dosamu, yang pertama dan yang terakhir, yang dahulu dan yang baru, yang tersilap dan sengaja, yang kecil dan yang besar, yang belakang layar dan yang nyata, 10 perkara. Engkau laksanakan shalat empat rakaat, engkau baca dalam setiap rakaat al-Fatihah dan surat. Ketika selesai membaca itu, saat engkau tegak, engkau ucapkan: ‘Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada ilahi selain Tuhan dan Tuhan Maha Besar, sebanyak 15 kali. Kemudian engkau ruku’, engkau ucapkan 10 Tasbih. Kemudian engkau angkat kepalamu dari ruku’, engkau ucapkan 10 kali, lalu engkau sujud, engkau ucapkan 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari sujud, engkau ucapkan 10 kali. Kemudian engkau sujud (kedua), engkau ucapkan 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari sujud, engkau ucapkan 10 kali. Maka itulah 75 kali tasbih. Engkau lakukan itu sebanyak 4 rakaat. Jika engkau bisa melaksanakannya satu kali sehari, maka laksakanlah. Jika engkau tidak mampu, maka laksanakanlah seminggu sekali. Jika engkau tidak mampu, maka laksanakanlah satu bulan sekali. Jika engkau tidak mampu, maka laksanakanlah setahun sekali. Jika engkau tidak mampu, maka seumur hidup sekali”.
Pertanyaan: Ada sebagian orang yang menyampaikan dalil shalat sunnat Tasbih itu tidak berpengaruh sebab haditsnya Dha’if? Benarkah demikian?
Jawaban: Beberapa ulama terkemuka memperlihatkan jawaban wacana kualitas hadits wacana shalat sunnat Tasbih:
فإن حديث صلاة التسابيح لا ينزل عن درجة الحسن ، لكثرة طرقه ، وتنوع مصادر تخريجه. وقد أفرد جمع من الأئمة هذا الحديث بتأليف جمع فيه طرقه ، كما نقل ذلك الحافظ ابن حجر في أجوبته المشهورة على أسئلة عن أحاديث رميت بالوضع ، اشتمل عليها كتاب المصابيح للإمام البغوي. قال الحافظ في تلك الأجوبة: "وقد أخرج حديثها (يعني صلاة التسابيح) أئمة الإسلام ، وحفاظه: أبو داود في السنن ، والترمذي في الجامع ، وابن خزيمة في صحيحه ، لكن قال: إن ثبت الخبر ، والحاكم في المستدرك ، وقال صحيح الإسناد ، والدارقطني أفردها بجميع طرقها في جزء. ثم فعل ذلك الخطيب ، ثم جمع طرقها الحافظ أبو موسى المديني في جزء سماه تصحيح صلاة التسابيح ..." وختم ابن حجر جوابه بقوله: "والحق أنه في درجة الحسن لكثرة طرقه التي تقوى بها الطريق الأولى".
Sesungguhnya hadits wacana shalat Tasbih tidak turun dari derajat hadits hasan, sebab jalur periwayatannya banyak, demikian juga dengan sumber-sumber takhrijnya. Beberapa imam menyusun kitab khusus berkaitan dengan hadits-hadits shalat Tasbih dengan menggabungkan jalur-jalur periwayatannya, sebagaimana yang dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam jawaban dia terhadap beberapa pertanyaan seputar hadits-hadits yang dituduh sebagai hadits palsu, terangkum dalam kitab al-Mashabih karya Imam al-Baghawi. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam jawabannya tersebut: “Para ulama telah meriwayatkan wacana hadits shalat Tasbih, diantaranya yakni Imam Abu Daud dalam as-Sunan, at-Tirmidzi dalam al-Jami’, Ibnu Khuzaimah dalam as-Shahih, akan tetapi dia mengatakan: “Jika khabar ini kuat”. Al-Hakim dalam al-Mustadrak, ia berkata: “Sanadnya shahih”. Ad-Daraquthni menyusun satu kitab khusus wacana hadits shalat Tasbih dengan aneka macam jalur periwayatannya. Demikian juga dengan imam al-Khathib. Al-Hafizh Abu Musa al-Madini menyusun satu kitab berjudul Tashih Shalat at-Tasbih. Al-Hafizh Ibnu Hajar menutup jawabannya dengan menyatakan: “Sebenarnya hadits-hadits wacana shalat Tasbih hingga derajat hadits Hasan sebab jalur-jalur periwayatannya yang banyak yang menguatkan jaluar riwayat yang pertama”. (Fatawa asy-Syabakah al-Islamiyyah, juz. 3, hal: 483).
Nashiruddin al-Albani menyatakan dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: “Hadits Shahih li Ghairihi”. (Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: juz. 1, hal. 165).
Pertanyaan: Bagaimanakah tata cara pelaksanaan shalat sunnat Tasbih?
Jawaban: Cara melaksanakan shalat sunnat Tasbih sebagai berikut:
صلاة التسابيح اربع ركعات في كل ركعة خمس وسبعون تسبيحة ، توزع هذه التسبيحات ـــ وهي : سبحان الله ، والحمد لله ، ولا اله الا الله ، والله اكبر ـــ على جميع اركان الصلاة وسننها على النحو التالي :
ــ ان يقولها بعد سورة الفاتحة وما تيسر من القرآن الكريم خمس عشرة مرة
ــ ان يقولها بعد اذكار الركوع عشر مرات
ــ ان يقولها بعد التسميع والتحميد عشر مرات
ــ ان يقولها بعد اذكار السجدة الاولى عشر مرات
ــ ان يقولها بعد اذكار ما بين السجدتين عشر مرات
ــ ان يقولها بعد اذكار السجدة الثانية عشر مرات
ــ ان يقولها في جلسة الاستراحة بعد تكبير القيام من السجدة الثانية عشر مرات
ويفعل هذا في كل ركعة ويقولها عشرا بعد التشهد الاول ، وعشرا بعد التشهد الاخير قبل السلام .
Shalat Tasbih terdiri dari empat rakaat, dalam satu rakaat terdapat 75 kali Tasbih:
سُبْحَانَ اللَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Ucapan Tasbih ini tersebar dalam rukun dan sunnat shalat Tasbih, rinciannya sebagai berikut:
- 15 kali Tasbih sehabis membaca al-Fatihah dan Surat.
- 10 kali Tasbih sehabis doa pada ruku’.
- 10 kali Tasbih sehabis Tasmi’ dan Tahmid, tegak dari Ruku’.
- 10 kali Tasbih sehabis doa pada Sujud.
- 10 kali Tasbih sehabis doa diantara dua Sujud.
- 10 kali Tasbih sehabis doa pada Sujud kedua.
- 10 kali Tasbih pada duduk istirahat sehabis Sujud sebelum tegak.
- Khusus pada Tasyahhud Awal dan Tasyahhud Akhir, dibaca 10 kali sehabis Tasyahhud.
Ini tata cara yang umum dilakukan kaum muslimin, akan tetapi ada versi lain berdasarkan riwayat lain:
إنه يسبح ويحمد ويهلل ويكبر خمس عشرة مرة قبل القراءة وعشرا بعدها وعشرا في الركوع وفي الرفع منه وفي السجدتين وفي الجلوس بينهما ـ فيكون المجموع في كل ركعة خمسا وسبعين مرة، وهذا هو المروي عن ابن المبارك
15 tasbih sebelum membaca al-Fatihah.
10 tasbih sehabis membaca ayat.
10 tasbih saat ruku’.
10 tasbih saat bangkit dari ruku’.
10 tasbih saat sujud pertama.
10 tasbih saat duduk diantara dua sujud.
10 tasbih saat sujud kedua.
Ini riwayat dari Ibnu al-Mubarak.
Demikian juga wacana membaca tasbih pada Tasyahhud, apakah sebelum atau sehabis Tasyahhud, diatas disebutkan sehabis Tasyahhud, namun ada versi lain menyebut sebelum Tasyahhud:
القليوبي: العشرة المذكورة بعد السجود الثاني قبل القيام في جلسة الاستراحة، أو قبل التشهد. انتهى.
Al-Qalyubi berkata: “10 Tasbih sehabis sujud kedua dibaca pada duduk istirahat sebelum tegak, atau sebelum Tasyahhud”.
Pertanyaan: Bagaimanakah cara menghitung jumlah tasbih tersebut?
Jawaban:
ان كثرة التسبيحات ، وحد الشرع العدد ، ولم تكن وسيلة لضبطها الا بعقد الاصابع فهي حينئذ من المعفوات ان شاء الله
Jumlah Tasbih yang banyak ditetapkan oleh syariat Islam, cara menghitungnya hanya dengan jari jemari, maka ini termasuk hal yang dimaafkan insya Allah.
Pertanyaan: Apakah ada bacaan surat-surat tertentu?
Jawaban:
لم يرد تقييد سورة معينة تقرأ في صلاة التسابيح ، والنصوص الواردة في صلاة التسابيح نجد جلها تذكر فاتحة الكتاب وسورة ، دون تقييد بسورة معينة ، ولا بعدد معين .
Tidak terdapat riwayat yang menyebutkan bacaan surat tertentu dibaca dalam shalat Tasbih. Riwayat-riwayat wacana shalat Tasbih sebagian besarnya hanya menyebutkan al-Fatihah dan membaca surat, tanpa menyebutkan surat tertentu dan jumlah tertentu.
Pertanyaan: Apakah 4 rakaat itu dilaksanakan bersambung dengan satu kali salam? atau setiap dua rakaat satu salam?
Jawaban:
ظاهر الاحاديث الواردة انها تصلى بتسليمة واحة ليلا كان او نهارا
Zahir hadits-hadits wacana shalat Tasbih menyebutkan bahwa shalat Tasbih dengan satu salam, baik dilaksanakan di waktu siang maupun di waktu malam.
Pertanyaan: Shalat sunnat Tasbih dilaksanakan dengan bunyi Sirr atau Jahr?
Jawaban:
السنة الاسرار في التسبيحات سواء صليت في الليل او النهار ، اما قراءتها ففي النهار الاسرار ، وفي الليل كسائر التطوعات ، يتوسط فيها بين الجهر والاسرار
Menurut Sunnah, kalimat Tasbih dibaca secara sirr, baik shalat malam maupun siang. Sedangkan bacaan al-Fatihah dan surat, jikalau dilaksanakan pada waktu siang, maka dibaca Sirr. Jika dilaksanakan pada waktu malam, maka sama menyerupai shalat sunnat yang lain, dibaca pertengahan antara Jahr dan Sirr.
Pertanyaan: Shalat Sunnat Tasbih dilaksanakan sendirian atau berjamaah?
Jawaban: Dilihat dari kalimat yang dipakai Rasulullah Saw kepada al-‘Abbas:
يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلاَ أُعْطِيكَ أَلاَ أَمْنَحُكَ أَلاَ أَحْبُوكَ
“Wahai ‘Abbas, wahai Paman, maukah engkau, sudikah engkau saya berikan…”. Ini memperlihatkan makna bahwa shalat tersebut dilaksanakan sendirian.
Akan tetapi jikalau dilaksanakan secara berjamaah, maka shalat tersebut tetap sah, berdasarkan pendapat Imam an-Nawawi:
(الشرح) قال أصحابنا تطوع الصلاة ضربان (ضرب) تسن فيه الجماعة وهو العيد والكسوف والاستسقاء وكذا التراويح علي الاصح (وضرب) لا تسن له الجماعة لكن لو فعل جماعة صح
(Penjelasan) para ulama Mazhab Syafi’i berkata: shalat sunnat itu terbagi dua: satu kepingan shalat yang disunnatkan dilaksanakan secara berjamaah, yaitu shalat ‘Ied, shalat gerhana matahari, shalat Istisqa’ (minta turun hujan) dan shalat Tarawih berdasarkan pendapat al-Ashahh. Satu kepingan shalat yang tidak dianjurkan dilaksanakan secara berjamaah, akan tetapi jikalau dilaksanakan secara berjamaah, maka shalat tersebut tetap sah. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab: juz. 4, hal. 4).
Menurut pendapat Ibnu Taimiah:
صَلَاةُ التَّطَوُّعِ فِي جَمَاعَةٍ نَوْعَانِ :
أَحَدُهُمَا : مَا تُسَنُّ لَهُ الْجَمَاعَةُ الرَّاتِبَةُ كَالْكُسُوفِ وَالِاسْتِسْقَاءِ وَقِيَامِ رَمَضَانَ فَهَذَا يُفْعَلُ فِي الْجَمَاعَةِ دَائِمًا كَمَا مَضَتْ بِهِ السُّنَّةُ .
الثَّانِي : مَا لَا تُسَنُّ لَهُ الْجَمَاعَةُ الرَّاتِبَةُ : كَقِيَامِ اللَّيْلِ وَالسُّنَنِ الرَّوَاتِبِ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ وَنَحْوِ ذَلِكَ .
فَهَذَا إذَا فُعِلَ جَمَاعَةً أَحْيَانًا جَازَ .
Shalat sunnat dilaksanakan secara berjamaah ada dua jenis:
Pertama: shalat sunnat yang disunnatkan dilaksanakan secara berjamaah terus menerus menyerupai shalat Kusuf (gerhana matahari), Istisqa’ (minta hujan), Qiyamullail Ramadhan, ini jenis shalat yang dilaksanakan berjamaah terus menerus sebagaimana yang disebutkan Sunnah.
Kedua: shalat sunnat yang tidak disunnatkan untuk dilaksanakan secara berjamaah secara terus menerus, menyerupai Qiyamullail, shalat-shalat sunnat Rawatib, shalat Dhuha, shalat Tahyatulmasjid, dan sejenisnya. Shalat-shalat sunnat menyerupai ini jikalau dilaksanakan secara berjamaah jarang-jarang/sekali-sekali (tidak terus menerus). (Majmu’ Fatawa Ibni Taimiah: juz. 5, hal. 381).
Pertanyaan: Bilakah Waktu Pelaksanaan Shalat Sunnat Tasbih?
Jawaban:
صلاة التسابيح نوع من صلاة النفل المطلق تفعل على صورة مخصوصة ، تقدم ذكرها ، ويكره اداؤها في اوقات الكراهة على الراجح .
shalat Sunnat Tasbih yakni jenis shalat sunnat mutlaq (tidak terikat waktu) yang dilaksanakan dengan cara khusus –sebagaimana yang telah disebutkan di atas-. Makruh dilaksanakan pada waktu-waktu terlarang melaksanakan shalat (setelah ‘Ashar, sehabis Shubuh dan menjelang Zawal/tergelincir matahari), demikian berdasarkan pendapat yang kuat.
Pertanyaan: Apakah keutamaan melaksanakan shalat sunnat Tasbih?
Jawaban: Di awal hadits, Rasulullah Saw menyatakan:
يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلاَ أُعْطِيكَ أَلاَ أَمْنَحُكَ أَلاَ أَحْبُوكَ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ قَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ صَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ سِرَّهُ وَعَلاَنِيَتَهُ عَشْرَ خِصَالٍ
“Wahai ‘Abbas, wahai paman, maukah engkau saya berikan, sudikah engkau saya lakukan sesuatu terhadapmu 10 kasus jikalau engkau mau melakukannya; Tuhan mengampuni dosamu, yang pertama dan yang terakhir, yang dahulu dan yang baru, yang tersilap dan sengaja, yang kecil dan yang besar, yang belakang layar dan yang nyata, 10 perkara”.
Di selesai hadits Rasulullah Saw nyatakan:
إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِى كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى عُمُرِكَ مَرَّةً ».
“Jika engkau bisa melaksanakannya satu kali sehari, maka laksakanlah. Jika engkau tidak mampu, maka laksanakanlah seminggu sekali. Jika engkau tidak mampu, maka laksanakanlah satu bulan sekali. Jika engkau tidak mampu, maka laksanakanlah setahun sekali. Jika engkau tidak mampu, maka seumur hidup sekali”. Menunjukkan betapa pentingnya shalat sunnat Tasbih.
ومن الاجور في هذه الصلاة كثرة ذكر الله عز وجل فيها ، ففي كل ركعة يقول المصلي : سبحان الله ، والحمد لله ، ولا اله الا الله ، والله اكبر ( هذه الاربع تسبيحات واحدة ) خمسا وسبعين مرة ، وفي الاربع ركعات يقولها ثلاث مئة مرة ، وان فرقنا التسبيحات ( وهن اربع كلمات ) يكون مجموعها في الركعات الاربع الفا ومئتين ، وهذا في اللفظ والعدد .
والحسنة بعشر امثالها فيكن في الاجر اثني عشر الفا ( والله يضاعف لمن يشاء
Diantara tanggapan dalam shalat sunnat Tasbih yakni banyaknya zikir dalam shalat tersebut. Dalam satu rakaat diucapkan:
سُبْحَانَ اللَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Sebanyak 75 kali, 4 rakaat berarti 300 kali. Jika kalimat Tasbih ini dipecah menjadi empat, berarti 1200 kali. Setiap satu kebaikan diberi tanggapan 10 kebaikan, maka berarti 12.000 kali. Dan Tuhan melipatgandakan lebih banyak daripada itu, kepada orang-orang yang Ia kehendaki.
Catatan: Sebagian dikutip dari muqaddimah Syekh Masyhur Hasan terhadap kitab Dzikr Shalat at-Tasbih wa al-Ahadits allati Ruwiyat ‘an an-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam wa Ikhtilaf Alfazh an-Naqilin laha karya Imam al-Khathib al-Baghdadi.
Telah dimuat di blog: www. Sumber http://somadmorocco.blogspot.co.id/
H. Abdul Somad, Lc., MA.
(S1 Al-Azhar, Mesir. S2 Darulhadis, Maroko. Dosen UIN Suska).
Pertanyaan: Apakah dalil shalat sunnat Tasbih?
Jawaban: Dalil pelaksanaan shalat sunnat Tasbih berdasarkan sabda Rasulullah Saw:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ « يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلاَ أُعْطِيكَ أَلاَ أَمْنَحُكَ أَلاَ أَحْبُوكَ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ قَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ صَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ سِرَّهُ وَعَلاَنِيَتَهُ عَشْرَ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّىَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِى أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوعِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَهْوِى سَاجِدًا فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُولُهَا عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِى كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى عُمُرِكَ مَرَّةً ».
Dari Ibnu Abbas, sebetulnya Rasulullah Saw berkata kepada al-‘Abbas bin Abdul Muththalib: “Wahai ‘Abbas, wahai paman, maukah engkau saya berikan, sudikah engkau saya lakukan sesuatu terhadapmu 10 kasus jikalau engkau mau melakukannya; Tuhan mengampuni dosamu, yang pertama dan yang terakhir, yang dahulu dan yang baru, yang tersilap dan sengaja, yang kecil dan yang besar, yang belakang layar dan yang nyata, 10 perkara. Engkau laksanakan shalat empat rakaat, engkau baca dalam setiap rakaat al-Fatihah dan surat. Ketika selesai membaca itu, saat engkau tegak, engkau ucapkan: ‘Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada ilahi selain Tuhan dan Tuhan Maha Besar, sebanyak 15 kali. Kemudian engkau ruku’, engkau ucapkan 10 Tasbih. Kemudian engkau angkat kepalamu dari ruku’, engkau ucapkan 10 kali, lalu engkau sujud, engkau ucapkan 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari sujud, engkau ucapkan 10 kali. Kemudian engkau sujud (kedua), engkau ucapkan 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari sujud, engkau ucapkan 10 kali. Maka itulah 75 kali tasbih. Engkau lakukan itu sebanyak 4 rakaat. Jika engkau bisa melaksanakannya satu kali sehari, maka laksakanlah. Jika engkau tidak mampu, maka laksanakanlah seminggu sekali. Jika engkau tidak mampu, maka laksanakanlah satu bulan sekali. Jika engkau tidak mampu, maka laksanakanlah setahun sekali. Jika engkau tidak mampu, maka seumur hidup sekali”.
Pertanyaan: Ada sebagian orang yang menyampaikan dalil shalat sunnat Tasbih itu tidak berpengaruh sebab haditsnya Dha’if? Benarkah demikian?
Jawaban: Beberapa ulama terkemuka memperlihatkan jawaban wacana kualitas hadits wacana shalat sunnat Tasbih:
فإن حديث صلاة التسابيح لا ينزل عن درجة الحسن ، لكثرة طرقه ، وتنوع مصادر تخريجه. وقد أفرد جمع من الأئمة هذا الحديث بتأليف جمع فيه طرقه ، كما نقل ذلك الحافظ ابن حجر في أجوبته المشهورة على أسئلة عن أحاديث رميت بالوضع ، اشتمل عليها كتاب المصابيح للإمام البغوي. قال الحافظ في تلك الأجوبة: "وقد أخرج حديثها (يعني صلاة التسابيح) أئمة الإسلام ، وحفاظه: أبو داود في السنن ، والترمذي في الجامع ، وابن خزيمة في صحيحه ، لكن قال: إن ثبت الخبر ، والحاكم في المستدرك ، وقال صحيح الإسناد ، والدارقطني أفردها بجميع طرقها في جزء. ثم فعل ذلك الخطيب ، ثم جمع طرقها الحافظ أبو موسى المديني في جزء سماه تصحيح صلاة التسابيح ..." وختم ابن حجر جوابه بقوله: "والحق أنه في درجة الحسن لكثرة طرقه التي تقوى بها الطريق الأولى".
Sesungguhnya hadits wacana shalat Tasbih tidak turun dari derajat hadits hasan, sebab jalur periwayatannya banyak, demikian juga dengan sumber-sumber takhrijnya. Beberapa imam menyusun kitab khusus berkaitan dengan hadits-hadits shalat Tasbih dengan menggabungkan jalur-jalur periwayatannya, sebagaimana yang dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam jawaban dia terhadap beberapa pertanyaan seputar hadits-hadits yang dituduh sebagai hadits palsu, terangkum dalam kitab al-Mashabih karya Imam al-Baghawi. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam jawabannya tersebut: “Para ulama telah meriwayatkan wacana hadits shalat Tasbih, diantaranya yakni Imam Abu Daud dalam as-Sunan, at-Tirmidzi dalam al-Jami’, Ibnu Khuzaimah dalam as-Shahih, akan tetapi dia mengatakan: “Jika khabar ini kuat”. Al-Hakim dalam al-Mustadrak, ia berkata: “Sanadnya shahih”. Ad-Daraquthni menyusun satu kitab khusus wacana hadits shalat Tasbih dengan aneka macam jalur periwayatannya. Demikian juga dengan imam al-Khathib. Al-Hafizh Abu Musa al-Madini menyusun satu kitab berjudul Tashih Shalat at-Tasbih. Al-Hafizh Ibnu Hajar menutup jawabannya dengan menyatakan: “Sebenarnya hadits-hadits wacana shalat Tasbih hingga derajat hadits Hasan sebab jalur-jalur periwayatannya yang banyak yang menguatkan jaluar riwayat yang pertama”. (Fatawa asy-Syabakah al-Islamiyyah, juz. 3, hal: 483).
Nashiruddin al-Albani menyatakan dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: “Hadits Shahih li Ghairihi”. (Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: juz. 1, hal. 165).
Pertanyaan: Bagaimanakah tata cara pelaksanaan shalat sunnat Tasbih?
Jawaban: Cara melaksanakan shalat sunnat Tasbih sebagai berikut:
صلاة التسابيح اربع ركعات في كل ركعة خمس وسبعون تسبيحة ، توزع هذه التسبيحات ـــ وهي : سبحان الله ، والحمد لله ، ولا اله الا الله ، والله اكبر ـــ على جميع اركان الصلاة وسننها على النحو التالي :
ــ ان يقولها بعد سورة الفاتحة وما تيسر من القرآن الكريم خمس عشرة مرة
ــ ان يقولها بعد اذكار الركوع عشر مرات
ــ ان يقولها بعد التسميع والتحميد عشر مرات
ــ ان يقولها بعد اذكار السجدة الاولى عشر مرات
ــ ان يقولها بعد اذكار ما بين السجدتين عشر مرات
ــ ان يقولها بعد اذكار السجدة الثانية عشر مرات
ــ ان يقولها في جلسة الاستراحة بعد تكبير القيام من السجدة الثانية عشر مرات
ويفعل هذا في كل ركعة ويقولها عشرا بعد التشهد الاول ، وعشرا بعد التشهد الاخير قبل السلام .
Shalat Tasbih terdiri dari empat rakaat, dalam satu rakaat terdapat 75 kali Tasbih:
سُبْحَانَ اللَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Ucapan Tasbih ini tersebar dalam rukun dan sunnat shalat Tasbih, rinciannya sebagai berikut:
- 15 kali Tasbih sehabis membaca al-Fatihah dan Surat.
- 10 kali Tasbih sehabis doa pada ruku’.
- 10 kali Tasbih sehabis Tasmi’ dan Tahmid, tegak dari Ruku’.
- 10 kali Tasbih sehabis doa pada Sujud.
- 10 kali Tasbih sehabis doa diantara dua Sujud.
- 10 kali Tasbih sehabis doa pada Sujud kedua.
- 10 kali Tasbih pada duduk istirahat sehabis Sujud sebelum tegak.
- Khusus pada Tasyahhud Awal dan Tasyahhud Akhir, dibaca 10 kali sehabis Tasyahhud.
Ini tata cara yang umum dilakukan kaum muslimin, akan tetapi ada versi lain berdasarkan riwayat lain:
إنه يسبح ويحمد ويهلل ويكبر خمس عشرة مرة قبل القراءة وعشرا بعدها وعشرا في الركوع وفي الرفع منه وفي السجدتين وفي الجلوس بينهما ـ فيكون المجموع في كل ركعة خمسا وسبعين مرة، وهذا هو المروي عن ابن المبارك
15 tasbih sebelum membaca al-Fatihah.
10 tasbih sehabis membaca ayat.
10 tasbih saat ruku’.
10 tasbih saat bangkit dari ruku’.
10 tasbih saat sujud pertama.
10 tasbih saat duduk diantara dua sujud.
10 tasbih saat sujud kedua.
Ini riwayat dari Ibnu al-Mubarak.
Demikian juga wacana membaca tasbih pada Tasyahhud, apakah sebelum atau sehabis Tasyahhud, diatas disebutkan sehabis Tasyahhud, namun ada versi lain menyebut sebelum Tasyahhud:
القليوبي: العشرة المذكورة بعد السجود الثاني قبل القيام في جلسة الاستراحة، أو قبل التشهد. انتهى.
Al-Qalyubi berkata: “10 Tasbih sehabis sujud kedua dibaca pada duduk istirahat sebelum tegak, atau sebelum Tasyahhud”.
Pertanyaan: Bagaimanakah cara menghitung jumlah tasbih tersebut?
Jawaban:
ان كثرة التسبيحات ، وحد الشرع العدد ، ولم تكن وسيلة لضبطها الا بعقد الاصابع فهي حينئذ من المعفوات ان شاء الله
Jumlah Tasbih yang banyak ditetapkan oleh syariat Islam, cara menghitungnya hanya dengan jari jemari, maka ini termasuk hal yang dimaafkan insya Allah.
Pertanyaan: Apakah ada bacaan surat-surat tertentu?
Jawaban:
لم يرد تقييد سورة معينة تقرأ في صلاة التسابيح ، والنصوص الواردة في صلاة التسابيح نجد جلها تذكر فاتحة الكتاب وسورة ، دون تقييد بسورة معينة ، ولا بعدد معين .
Tidak terdapat riwayat yang menyebutkan bacaan surat tertentu dibaca dalam shalat Tasbih. Riwayat-riwayat wacana shalat Tasbih sebagian besarnya hanya menyebutkan al-Fatihah dan membaca surat, tanpa menyebutkan surat tertentu dan jumlah tertentu.
Pertanyaan: Apakah 4 rakaat itu dilaksanakan bersambung dengan satu kali salam? atau setiap dua rakaat satu salam?
Jawaban:
ظاهر الاحاديث الواردة انها تصلى بتسليمة واحة ليلا كان او نهارا
Zahir hadits-hadits wacana shalat Tasbih menyebutkan bahwa shalat Tasbih dengan satu salam, baik dilaksanakan di waktu siang maupun di waktu malam.
Pertanyaan: Shalat sunnat Tasbih dilaksanakan dengan bunyi Sirr atau Jahr?
Jawaban:
السنة الاسرار في التسبيحات سواء صليت في الليل او النهار ، اما قراءتها ففي النهار الاسرار ، وفي الليل كسائر التطوعات ، يتوسط فيها بين الجهر والاسرار
Menurut Sunnah, kalimat Tasbih dibaca secara sirr, baik shalat malam maupun siang. Sedangkan bacaan al-Fatihah dan surat, jikalau dilaksanakan pada waktu siang, maka dibaca Sirr. Jika dilaksanakan pada waktu malam, maka sama menyerupai shalat sunnat yang lain, dibaca pertengahan antara Jahr dan Sirr.
Pertanyaan: Shalat Sunnat Tasbih dilaksanakan sendirian atau berjamaah?
Jawaban: Dilihat dari kalimat yang dipakai Rasulullah Saw kepada al-‘Abbas:
يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلاَ أُعْطِيكَ أَلاَ أَمْنَحُكَ أَلاَ أَحْبُوكَ
“Wahai ‘Abbas, wahai Paman, maukah engkau, sudikah engkau saya berikan…”. Ini memperlihatkan makna bahwa shalat tersebut dilaksanakan sendirian.
Akan tetapi jikalau dilaksanakan secara berjamaah, maka shalat tersebut tetap sah, berdasarkan pendapat Imam an-Nawawi:
(الشرح) قال أصحابنا تطوع الصلاة ضربان (ضرب) تسن فيه الجماعة وهو العيد والكسوف والاستسقاء وكذا التراويح علي الاصح (وضرب) لا تسن له الجماعة لكن لو فعل جماعة صح
(Penjelasan) para ulama Mazhab Syafi’i berkata: shalat sunnat itu terbagi dua: satu kepingan shalat yang disunnatkan dilaksanakan secara berjamaah, yaitu shalat ‘Ied, shalat gerhana matahari, shalat Istisqa’ (minta turun hujan) dan shalat Tarawih berdasarkan pendapat al-Ashahh. Satu kepingan shalat yang tidak dianjurkan dilaksanakan secara berjamaah, akan tetapi jikalau dilaksanakan secara berjamaah, maka shalat tersebut tetap sah. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab: juz. 4, hal. 4).
Menurut pendapat Ibnu Taimiah:
صَلَاةُ التَّطَوُّعِ فِي جَمَاعَةٍ نَوْعَانِ :
أَحَدُهُمَا : مَا تُسَنُّ لَهُ الْجَمَاعَةُ الرَّاتِبَةُ كَالْكُسُوفِ وَالِاسْتِسْقَاءِ وَقِيَامِ رَمَضَانَ فَهَذَا يُفْعَلُ فِي الْجَمَاعَةِ دَائِمًا كَمَا مَضَتْ بِهِ السُّنَّةُ .
الثَّانِي : مَا لَا تُسَنُّ لَهُ الْجَمَاعَةُ الرَّاتِبَةُ : كَقِيَامِ اللَّيْلِ وَالسُّنَنِ الرَّوَاتِبِ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ وَنَحْوِ ذَلِكَ .
فَهَذَا إذَا فُعِلَ جَمَاعَةً أَحْيَانًا جَازَ .
Shalat sunnat dilaksanakan secara berjamaah ada dua jenis:
Pertama: shalat sunnat yang disunnatkan dilaksanakan secara berjamaah terus menerus menyerupai shalat Kusuf (gerhana matahari), Istisqa’ (minta hujan), Qiyamullail Ramadhan, ini jenis shalat yang dilaksanakan berjamaah terus menerus sebagaimana yang disebutkan Sunnah.
Kedua: shalat sunnat yang tidak disunnatkan untuk dilaksanakan secara berjamaah secara terus menerus, menyerupai Qiyamullail, shalat-shalat sunnat Rawatib, shalat Dhuha, shalat Tahyatulmasjid, dan sejenisnya. Shalat-shalat sunnat menyerupai ini jikalau dilaksanakan secara berjamaah jarang-jarang/sekali-sekali (tidak terus menerus). (Majmu’ Fatawa Ibni Taimiah: juz. 5, hal. 381).
Pertanyaan: Bilakah Waktu Pelaksanaan Shalat Sunnat Tasbih?
Jawaban:
صلاة التسابيح نوع من صلاة النفل المطلق تفعل على صورة مخصوصة ، تقدم ذكرها ، ويكره اداؤها في اوقات الكراهة على الراجح .
shalat Sunnat Tasbih yakni jenis shalat sunnat mutlaq (tidak terikat waktu) yang dilaksanakan dengan cara khusus –sebagaimana yang telah disebutkan di atas-. Makruh dilaksanakan pada waktu-waktu terlarang melaksanakan shalat (setelah ‘Ashar, sehabis Shubuh dan menjelang Zawal/tergelincir matahari), demikian berdasarkan pendapat yang kuat.
Pertanyaan: Apakah keutamaan melaksanakan shalat sunnat Tasbih?
Jawaban: Di awal hadits, Rasulullah Saw menyatakan:
يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلاَ أُعْطِيكَ أَلاَ أَمْنَحُكَ أَلاَ أَحْبُوكَ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ قَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ صَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ سِرَّهُ وَعَلاَنِيَتَهُ عَشْرَ خِصَالٍ
“Wahai ‘Abbas, wahai paman, maukah engkau saya berikan, sudikah engkau saya lakukan sesuatu terhadapmu 10 kasus jikalau engkau mau melakukannya; Tuhan mengampuni dosamu, yang pertama dan yang terakhir, yang dahulu dan yang baru, yang tersilap dan sengaja, yang kecil dan yang besar, yang belakang layar dan yang nyata, 10 perkara”.
Di selesai hadits Rasulullah Saw nyatakan:
إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِى كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى عُمُرِكَ مَرَّةً ».
“Jika engkau bisa melaksanakannya satu kali sehari, maka laksakanlah. Jika engkau tidak mampu, maka laksanakanlah seminggu sekali. Jika engkau tidak mampu, maka laksanakanlah satu bulan sekali. Jika engkau tidak mampu, maka laksanakanlah setahun sekali. Jika engkau tidak mampu, maka seumur hidup sekali”. Menunjukkan betapa pentingnya shalat sunnat Tasbih.
ومن الاجور في هذه الصلاة كثرة ذكر الله عز وجل فيها ، ففي كل ركعة يقول المصلي : سبحان الله ، والحمد لله ، ولا اله الا الله ، والله اكبر ( هذه الاربع تسبيحات واحدة ) خمسا وسبعين مرة ، وفي الاربع ركعات يقولها ثلاث مئة مرة ، وان فرقنا التسبيحات ( وهن اربع كلمات ) يكون مجموعها في الركعات الاربع الفا ومئتين ، وهذا في اللفظ والعدد .
والحسنة بعشر امثالها فيكن في الاجر اثني عشر الفا ( والله يضاعف لمن يشاء
Diantara tanggapan dalam shalat sunnat Tasbih yakni banyaknya zikir dalam shalat tersebut. Dalam satu rakaat diucapkan:
سُبْحَانَ اللَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Sebanyak 75 kali, 4 rakaat berarti 300 kali. Jika kalimat Tasbih ini dipecah menjadi empat, berarti 1200 kali. Setiap satu kebaikan diberi tanggapan 10 kebaikan, maka berarti 12.000 kali. Dan Tuhan melipatgandakan lebih banyak daripada itu, kepada orang-orang yang Ia kehendaki.
Catatan: Sebagian dikutip dari muqaddimah Syekh Masyhur Hasan terhadap kitab Dzikr Shalat at-Tasbih wa al-Ahadits allati Ruwiyat ‘an an-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam wa Ikhtilaf Alfazh an-Naqilin laha karya Imam al-Khathib al-Baghdadi.
Telah dimuat di blog: www. Sumber http://somadmorocco.blogspot.co.id/
EmoticonEmoticon