Jumat, 10 Februari 2012

Firman Yang Mahakuasa Swt:
وَالضُّحَى (1) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (2)
“Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi (gelap)”.
(Qs. Adh-Dhuha [93]: 2).
Surat adh-Dhuha ini termasuk kategori surat-surat Makkiyyah, surat-surat yang turun sebelum Rasulullah Saw hijrah ke Madinah.
Dalam ayat pertama ini Yang Mahakuasa Swt tidak hanya sekedar menyebut wacana waktu, namun lebih berpengaruh daripada itu, Yang Mahakuasa Swt bersumpah demi waktu, memperlihatkan betapa pentingnya waktu bagi seorang muslim. Ayat ini satu diantara enam waktu yang dijadikan Yang Mahakuasa Swt sebagai objek sumpah dalam al-Qur’an berdasarkan urutan waktunya:
Allah bersumpah demi waktu fajar:
وَالْفَجْرِ (1)
“”. (Qs. Al-Fajr [89]: 1).
Allah bersumpah demi waktu shubuh:
وَالصُّبْحِ إِذَا أَسْفَرَ
“Dan subuh apabila mulai terang”. (Qs. Al-Muddatstsir [74]: 34).
Allah bersumpah demi waktu Dhuha:
وَالضُّحَى (1)
“Demi waktu matahari sepenggalahan naik”. (Qs. Adh-Dhuha [93]: 2).
Allah bersumpah demi waktu siang:
وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى (2)
“Dan siang apabila jelas benderang”. (Qs. Al-Lail [92]: 2).
Allah bersumpah demi waktu petang:
وَالْعَصْرِ (1)
“Demi waktu ‘Ashr (petang)”. (Qs. Al-‘Ashr: 1).
Allah bersumpah demi waktu malam:
“Dan demi malam apabila telah sunyi (gelap)”. (Qs. Adh-Dhuha [93]: 2).
Bahkan dari sekian banyak nikmat yang diberikan Yang Mahakuasa Swt, maka waktu ialah nikmat pertama yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Yang Mahakuasa Swt, sesuai hadits riwayat Ibnu Mas’ud:
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَزُولُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ
Dari Ibnu Mas’ud, dari Rasulullah Saw, dia bersabda:
“Kaki anak Adam akan tetap tegak bangkit di sisi Tuhannya pada hari kiamat, sampai ia ditanya wacana lima pertanyaan; wacana umurnya, kemana ia habiskan?”. (HR. At-Tirmidzi).
Umur ialah waktu yang diamanahkan Yang Mahakuasa Swt kepada seorang hamba. Akan tetapi banyak insan yang tertipu oleh waktu, oleh lantaran itu Rasulullah Saw nyatakan:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat, banyak insan tertipu dalam dua nikmat itu; nikmat sehat dan nikmat waktu luang”. (HR. Al-Bukhari).

Firman Yang Mahakuasa Swt:
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى (3)
“Tuhanmu tiada meninggalkan kau dan tiada (pula) benci kepadamu”. (Qs. Adh-Dhuha : 3).
Imam Jalaluddin as-Suyuthi menyebutkan, “Ketika wahyu terlambat turun selama 15 hari, maka orang-orang kafir mengejek Rasulullah Saw:
إن ربه ودَّعه وقلاه
“Sesungguhnya Tuhannya telah meninggalkannya dan benci kepadanya”. Maka Yang Mahakuasa Swt menurunkan ayat ini untuk membantah pernyataan orang-orang kafir Quraisy Mekah. Nyatalah bahwa al-Qur’an itu tiba dari sisi Allah, bukan menyerupai yang dituduhkan orang-orang kafir bahwa al-Qur’an itu ciptaan Rasulullah Saw.

Firman Yang Mahakuasa Swt:
وَلَلْآَخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى (4)
“Dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang kini (permulaan)”. (Qs. Adh-Dhuha : 4).
Manusia berada diantara dua pilihan; dunia dan akhirat. Banyak insan yang tertipu, maka ayat ini menegaskan pilihan terbaik diantara dua pilihan. Akan tetapi orang beriman tidak diperintahkan untuk meninggalkan dunia untuk mencari akhirat, lantaran Yang Mahakuasa Swt menyatakan:
وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Yang Mahakuasa kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kau melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi”. (Qs. Al-Qashash [28]: 77). Mu’min yang baik bukanlah yang meninggalkan dunia untuk akhirat, bukan pula sebaliknya. Akan tetapi yang menimbulkan dunia sebagai jalan menuju kebahagiaan akhirat.
Firman Yang Mahakuasa Swt:
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى (5)
“Dan kelak Tuhanmu niscaya memperlihatkan karunia-Nya kepadamu , kemudian (hati) kau menjadi puas”. (Qs. Adh-Dhuha: 5). Begitulah kesepakatan Yang Mahakuasa Swt kepada Rasul-Nya. Yang Mahakuasa Swt berikan karunia duniawi dengan berhasilnya menguasai jazirah Arab dan Yang Mahakuasa berikan karunia darul abadi dengan diangkatnya Rasulullah Saw sebagai pemberi syafaat. Akan tetapi puncak kepuasan Rasulullah Saw adalah:
إذن لا أرضى وواحد من أمتي في النار
“Aku tidak puas jikalau ada satu orang dari umatku yang masuk ke dalam neraka”. Begitulah cinta dan sayangnya Rasulullah Saw kepada umatnya. Karunia dunia dan darul abadi tidak membuatnya merasa puas, sebelumnya umatnya selamat dari azab neraka.


Firman Yang Mahakuasa Swt:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآَوَى (6) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (7) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (8) فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (9) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (10) وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (11)
6. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, kemudian Dia melindungimu?
7. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung[1583], kemudian Dia memperlihatkan petunjuk.
8. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, kemudian Dia memperlihatkan kecukupan.
9. Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kau Berlaku sewenang-wenang.
10. Dan terhadap orang yang, janganlah kau menghardiknya.
11. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kau siarkan.
[1582] Maksudnya ialah bahwa selesai usaha Nabi Muhammad s.a.w. itu akan menjumpai kemenangan-kemenangan, sedang permulaannya penuh dengan kesulitan-kesulitan. ada pula sebagian jago tafsir yang mengartikan darul abadi dengan kehidupan darul abadi beserta segala kesenangannya dan ula dengan arti kehidupan dunia.
[1583] Yang dimaksud dengan resah di sini ialah kebingungan untuk mendapat kebenaran yang tidak sanggup dicapai oleh akal, kemudian Yang Mahakuasa menurunkan wahyu kepada Muhammad s.a.w. sebagai jalan untuk memimpin ummat menuju keselamatan dunia dan akhirat.
(Qs. Adh-Dhuha [93]: 2).
Enam ayat diatas saling terkait antara satu sama lain. Ayat 6 terkait dengan ayat 9. Ayat 7 terkait dengan ayat 10. Dan Ayat 8 terkait dengan ayat 11.
Ayat 6 terkait dengan ayat 9: “Bukankah engkau dahulu seorang yatim, kemudian Yang Mahakuasa melindungimu? Maka kepada anak yatim, jangan sewenang-wenang!”.
Ayat 7 terkait dengan ayat 10: “Bukankah engkau dahulu resah lantaran keterbatasan akal? Lalu Yang Mahakuasa memperlihatkan wahyu kepadamu. Maka orang yang bertanya kepadamu wacana hidayah, jangan engkau menghardiknya!”.
Ayat 8 terkait dengan ayat 11: “Bukankah engkau dahulu dalam keadaan kekurangan, kemudian Yang Mahakuasa memperlihatkan kecukupan? Maka nikmat Tuhanmu itu mesti engkau siarkan”.
Begitulah cara Yang Mahakuasa Swt mendidik manusia, ia disadarkan wacana hakikat dirinya, kemudian kemudian diajarkan apa yang mesti ia lakukan. Kepedulian kepada sesama, membuatkan bahan dan non-materi dalam bentuk nasihat dan jalan menuju hidayah. Semoga kita sanggup meneladani Rasulullah Saw, amin ya Robbal’alamin.
Sumber http://somadmorocco.blogspot.co.id/


EmoticonEmoticon