Rabu, 01 Februari 2012

Oleh: H. Abdul Somad, Lc., MA.

Pengantar.
Ketika Islam dihujat sebagai agama ekslusif, rasis bahkan fasis, maka respon kaum muslimin pun beraneka ragam. Meskipun didasari rasa yang sama, rasa cinta kepada Islam dan Nabi Muhammad Saw, akan tetapi agresi yang berbeda menimbulkan respon yang juga ikut tidak sama. Sebagian perilaku kaum muslimin justru mengaminkan tuduhan yang dilontarkan, sehingga orang-orang yang tidak bahagia terhadap Islam hanya tinggal mengutip bukti dari sebuah asumsi. Di tengah hiruk pikuk tersebut kaum muslimin mesti berhenti sejenak, kembali membaca Islam dari sumber aslinya. Karena tidak semua perlakukan umat Islam sebagai interpretasi Islam. Betapa banyak tindakan umat Islam justru jauh dari nilai-nilai Islam. Tulisan singkat ini ingin mengungkap kedatangan Rasulullah Saw yang digambarkan Tuhan Swt sebagai ramatan li al-‘alamin sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Qs. Al-Anbiya’ [21]: 107).

Menjadi Rahmat Bagi Semesta Alam.
Allah Swt tidak menyebut Nabi Muhammad Saw sebagai rahmat bagi orang-orang beriman saja, bukan pula menjadi rahmat bagi umat insan saja. Akan tetapi kedatangannya menjadi rahmat bagi semesta alam. Semesta alam mencicipi kedatangannya sebagai rahmat. Ungkapan “rahmat bagi semesta alam” bukanlah hanya tetesan tinta diatas kertas, ungkapan tanpa makna dan bukti. Sejarah mencatat bahwa kedatangan nabi Muhammad Saw dirasakan semesta alam sebagai rahmat, bukan hanya orang-orang beriman yang merasakannya, akan tetapi semua umat manusia, bahkan binatang dan tumbuh-tumbuhan pun sanggup mencicipi rahmat yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw.

Menjadi Rahmat Bagi Hewan.
Tidak hanya makhluk cendekia yang mencicipi kehadiran nabi Muhammad Saw sebagai rahmat, bahkan binatang sekalipun mencicipi kehadirannya sebagai rahmat. Ini sanggup dilihat dari keseharian Rasulullah Saw. Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas dikisahkan:
وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال مر رسول الله صلى الله عليه وسلم على رجل واضع رجله على صفحة شاة وهو يحد شفرته وهي تلحظ إليه ببصرها قال : أفلا قبل هذا ؟ أو تريد أن تميتها موتات ؟ رواه الطبراني في الكبير والأوسط ورجاله رجال الصحيح
ورواه الحاكم إلا أنه قال: أ تريد أن تميتها موتات ؟ هلا أحددت شفرتك قبل أن تضجعها
Dari Ibnu abbas, ia berkata: “Rasulullah Saw melewati seorang pria yang meletakkan kakinya diatas badan kambing sementara itu ia mengasah pisaunya, sedangkan kambing itu mengamati dengan matanya. Rasulullah Saw berkata: “Mengapa tidak engkau lakukan sebelum ini?! Apakah engkau mau supaya ia mati berulang kali?!
Dalam riwayat al-Hakim, Rasulullah Saw bersabda: “Apakah engkau mau membuatnya mati berkali-kali?! Mengapa engkau tidak menajamkan pisaumu sebelum engkau membaringkannya” .
Dari hadits diatas terihat bagaimana Rasulullah Saw menjadi rahmat bagi seekor kambing. Di tengah masyarakat Arab jahiliah yang keras dan bergairah bahkan kepada sesama manusia. Tapi Rasulullah Saw memperhatikan susila kepada binatang.
Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ
“Sesungguhnya Tuhan Swt mewajibkan berbuat baik kepada segala sesuatu. Apabila kau membunuh, maka bunuhlah dengan baik. Dan apabila kau menyembelih, maka sembelihlah dengan baik. Hendaklah salah seorang kau menajamkan pisaunya dan menciptakan binatang sembelihannya tenang”. (HR. Muslim). Dari teks hadits diatas tersirat sebuah anutan bersikap lembut dan santun, meskipun itu terhadap seekor binatang yang tidak berakal. Berdasarkan ini Islam melarang menyembelih binatang dengan kuku, tulang dan benda tumpul, lantaran menimbulkan binatang mati tersiksa. Dalam kondisi tertentum, Islam memperbolehkan membunuh binatang berbisa jikalau keberadaannya membahayakan dan mengancam manusia, bahkan dalam shalat sekalipun:
اقْتُلُوا الأَسْوَدَيْنِ فِى الصَّلاَةِ الْحَيَّةَ وَالْعَقْرَبَ
“Bunuhlah dua yang hitam dalam shalat; ular dan kalajengking”. (HR. Abu Daud). Akan tetapi pembunuhan tersebut dilakukan dengan baik, tidak boleh menyiksa hewan, mesti mati dalam satu pukulan.
Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw menyatakan:
لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِى جُحْرٍ
“Janganlah salah seorang kau buang air kecil di lobang tanah”. (HR. al-Nasa’i). Dalam kitab Syarh Sunan al-Nasâ’i disebutkan dua alasan mengapa tidak boleh buang air kecil di lobang tanah. Pertama, lantaran lobang tanah ialah kawasan serangga dan binatang berbisa. Kedua, lobang tanah sebagai kawasan tinggal jin. Demikian rahmat yang dibawa Rasulullah Saw meliputi semua makhluk, yang nyata maupun yang tidak nyata, sekalipun itu serangga kecil yang mungkin tidak terlihat oleh mata. Bahkan sosok jin yang tidak terlihat di alam nyata.

Menjadi Rahmat Bagi Tumbuh-Tumbuhan.
Bukan hanya binatang yang menerima rahmat dengan kedatangan Nabi Muhammad Saw, makhluk lain berjulukan tumbuh-tumbuhan juga menerima rahmat dengan kedatangan Rasulullah Saw. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah Saw bersabda:
إن قامت الساعة وفي يد أحدكم فسيلة فإن استطاع أن لا تقوم حتى يغرسها فليغرسها
“Jika terjadi hari kiamat, di tangan salah seorang kau ada bibit kurma. Jika ia bisa simpulan zaman tidak terjadi hingga ia menanamkannya, maka hendaklah ia menanamkannya”. (HR. Ahmad) . Dapat dibayangkan, seseorang yang akan meninggal dunia, namun di tangannya ada bibit kurma, Rasulullah Saw menganjurkannya supaya menanam bibit kurma tersebut. Untuk apa ia menanam bibit kurma tersebut, ia mustahil sanggup bernaung di bawah rindang pohonnya dan ia juga mustahil sanggup menikmati buahnya lantaran ia akan meninggal dunia. Islam mengajarkan bahwa seorang muslim tidak berbuat untuk dirinya sendiri, akan tetapi berbuat untuk orang lain, untuk generasi yang akan datang, untuk kelestarian alam. Andai sabda ini dinyatakan seseorang yang tinggal di iklim tropis, buminya subur, gemah ripah loh jenawi, tongkat dan watu jadi tanaman, tentu sabda ini tidak mengherankan. Akan tetapi, sabda ini dinyatakan seorang nabi yang tinggal di gurun pasir yang panas dan kering kerontang. Di tengah suasana yang tidak lazim, di tengah iklim yang tidak mendukung, Rasulullah Saw masih sempat memberikan pesan moral memperhatikan kelestarian alam dengan menanam tanaman. Sebaliknya, bagi orang-orang yang merusak tanaman, Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِى النَّارِ
“Siapa yang memotong pohon Sidr, maka Tuhan Swt sungkurkan kepalanya dalam api neraka”. (HR. Abu Daud). Jika memotong sebatang pohon saja demikian kerasnya azab yang akan diterima pada hari pembalasan kelak, lantas bagaimanakah eksekusi bagi orang-orang yang melaksanakan praktik illegal loging, membabat habis hutan belantara yang hijau, menimbulkan kerusakan alam berkepanjangan dan menyusahkan banyak orang.
Slogan reboisasi, penghijauan, gerakan menanam, one man one tree, semua ini muncul sebagai reaksi terhadap pembantaian tanpa henti terhadap paru-paru alam. Akan tetapi agama Islam dengan ajarannya yang universal semenjak empat belas kala silam telah mencanangkan penghijauan sebagai sebuah anutan berbasis agama, sehingga penanaman tersebut tidak hanya sebagai wujud kepedulian terhadap alam, akan tetapi juga sebagai sarana ibadah lantaran melaksanakan undangan Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw mengajarkan sisi lain sedekah yang berkaitan dengan penjagaan alam, ini tersirat dalam sabdanya:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا ، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا ، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ ، إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
“Setiap muslim yang menanam tumbuhan atau tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan burung atau insan atau hewan, maka itu menjadi sedekah baginya”. (HR. Al-Bukhari).

Menjadi Rahmat Bagi Lingkungan.
Pencemaran alam yang telah hingga pada tingkat kritis menciptakan para jago lingkungan hidup nyaris berputus asa, karenanya mereka mengalah pada agama. Maka muncullah para ulama umat Islam yang mengkaji pesan-pesan moral Islam terhadap lingkungan yang terangkum dalam Fiqh al-Bî’ah. Islam tidak hanya terbatas pada pembahasan klasik, berkutat pada pembahasan Thahârah (bersuci), Fiqh Ibadah dan lain sebagainya. Akan tetapi mulai mengkonsentrasikan diri pada pesan-pesan Islam terhadap pemeliharaan lingkungan. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda:
لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِى الْمَاءِ الدَّائِمِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ
“Janganlah salah seorang kau buang air kecil di air tergenang yang tidak mengalir”. (HR. Muslim). Jika membuang limbah langsung saja dilarang, maka bagaimana dengan limbah pabrik, kotoran kolektif yang merusak alam semesta.
Dalam Islam diajarkan bahwa ibadah shalat tidak sah jikalau tidak dalam keadaan suci, dan kesucian yang tepat itu dilakukan dengan air. Bersuci tidak tepat jikalau tidak dilakukan dengan air yang juga suci. Oleh lantaran itu menjaga kesucian air merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Karena kesucian air terkait akrab dengan ibadah yang dilakukan kaum muslimin setiap waktu. Dengan demikian maka menjaga semua sarana yang sanggup mewujudkan air yang suci merupakan kewajiban setiap muslim, sama menyerupai kewajiban ibadah shalat itu sendiri. Karena shalat menjadi tidak tepat tanpa air yang suci. Seirama dengan kaedah:
مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Yang wajib menjadi tidak tepat kecuali dengan keberadaannya, maka ia pun ikut menjadi wajib”.

Menjadi Rahmat Bagi Musuh.
Tiga belas tahun lamanya Rasulullah Saw hidup dalam penindasan kaum musyrik Mekah. Siksaan fisik dan mental dia rasakan dalam kurun waktu yang panjang tersebut. Tak hanya Rasulullah Saw, para pengikutnya ikut mencicipi sakitnya penderitaan. Rasulullah Saw tidak bisa menolong mereka, suatu saat Rasulullah Saw melewati rumah keluarga Yasir, dia mendengar rintihan Yasir, ‘Ammar putranya dan Sumayyah istrinya akhir siksaan yang mereka alami. Saat itulah keluar ucapan Rasulullah Saw:
صبرا يا آل ياسر ، فإن موعدكم الجنة
“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, bergotong-royong kau dijanjikan surga”. (HR. al-Hakim). Bilal bin Rabah dijemur di panas terik, ditimpa dengan watu besar, diikut dengan tali dan aneka macam macam siksaan lainnya.
Akhirnya kemenangan itu datang, pada tahun ke delapan Hijrah, Rasulullah Saw bersama sepuluh ribu pasukan memasuki kota Mekah yang dikenal dengan insiden Fathu Makkah (Pembebasan Kota Mekah). Terbayang di benak Sa’ad bin ‘Ubadah bahwa hari itu ialah hari pembalasan, maka ia katakan, “Ini ialah hari pembalasan”. Akan tetapi, apakah kiranya jawaban Rasulullah Saw mendengar ucapan itu, dia berkata:
يا أبا سفيان اليوم يوم المرحمة اليوم أعز الله فيه قريشاً
“Wahai Abu Sufyan, ini ialah hari kasih sayang. Hari ini Tuhan Swt memuliakan orang-orang Quraisy” . Padahal kita tahu bagaimana perlakuan Abu Sufyan dan orang-orang Quraisy terhadap Rasulullah Saw.
Katika Rasulullah Saw telah selesai menghancurkan patung-patung di sekeliling Ka’bah, dia berpidato di hadapan penduduk Mekah. Di simpulan khutbahnya Rasulullah Saw bertanya kepada penduduk Mekah:
« مَا تَرَوْنَ أَنِّى صَانِعٌ بِكُمْ؟ ».
قَالُوا : خَيْرًا أَخٌ كَرِيمٌ وَابْنُ أَخٍ كَرِيمٍ. قَالَ :« اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ ».
“Menurut kamu, apa yang akan saya lakukan terhadap kamu?”.
Mereka menjawab: “Perlakuan baik. (Engkau) saudara yang mulia dan anak dari seorang saudara yang mulia”.
Rasulullah Saw berkata: “Pergilah kamu, maka kau ialah orang-orang yang bebas”. (HR. Al-Baihaqi).
Terlihat rahmat yang dibawa Rasulullah Saw, meskipun itu terhadap para musuh yang amat sangat menyakiti beliau.
Demikian Rasulullah Saw memperlakukan musuh-musuhnya. Berikut ini petikan khutbah Rasulullah Saw saat melepas pasukan menuju Mu’tah:
اغْزُوا بِاسْمِ اللَّهِ فَقَاتِلُوا عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ بِالشَّامِ وَسَتَجِدُونَ فِيهِمْ رِجَالاً فِى الصَّوَامِعِ مُعْتَزِلِينَ مِنَ النَّاسِ فَلاَ تَعْرِضُوا لَهُمْ وَسَتَجِدُونَ آخَرِينَ لِلشَّيْطَانِ فِى رُءُوسِهِمْ مَفَاحِصُ فَافْلُقُوهَا بِالسُّيُوفِ وَلاَ تَقْتُلُوا امْرَأَةً وَلاَ صَغِيرًا ضَرَعًا وَلاَ كَبِيرًا فَانِيًا وَلاَ تَقْطَعُنَّ شَجَرَةً وَلاَ تَعْقِرُنَّ نَخْلاً وَلاَ تَهْدِمُوا بَيْتًا
“Berperanglah kau dengan nama Allah. Perangilah musuh Tuhan dan musuh kau di negeri Syam. Kamu akan mendapati diantara mereka orang-orang yang tinggal di tempat-tempat ibadah, mereka mengasingkan diri orang banyak. Maka janganlah kau mengganggu mereka. Dan kau akan mendapati orang-orang lain yang di kepala mereka ada sarang setan. Maka pecahkanlah dengan pedang-pedang. Janganlah kau membunuh perempuan, jangan bunuh anak kecil menyusui, jangan bunuh orang bau tanah renta, jangan potong pohon kayu, jangan tebang pohon kurma dan jangan hancurkan rumah”. (HR. Al-Baihaqi).
Jika etika perang menyerupai ini muncul di tengah masyarakat modern, tentulah itu tidak mengherankan, akan tetapi pesan-pesan Rasulullah Saw ini lahir di tengah masyarakat primitif yang membumihanguskan setiap negeri yang mereka kuasai tanpa menyisakan apa pun, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyata.

Penutup.
Jika pesan-pesan ini lahir dari seorang filusuf yang lahir dan besar di Yunani atau pemikir dari Romawi, tentulah itu tidak mengherankan, lantaran ia lahir sebagai produk dari lingkungan peradabannya. Akan tetapi pesan-pesan ini lahir dari lisan seorang Muhammad yang lahir di tengah masyarakat Arab Jahiliah yang tidak mengenal peradaban. Tidaka ada yang istimewa bagi sekuntum bunga mawar yang tumbuh di taman yang subur. Namun saat padang sahara yang tandus bisa mengeluarkan setangakai mawar yang indah dan harum semerbak, disanalah gres terjadi mukjizat. Demikianlah halnya sosok Muhammad Saw, ia bukan produk lingkungannya, akan tetapi tiba dari wahyu yang dikirimkan Tuhan Swt. Pesan-pesan moral Rasulullah Saw yang universal ini mesti sanggup dinikmati alam semesta di zaman moderen ini. Warisan Rasulullah Saw tidak hanya dibaca dalam buku-buku sejarah dan buku ilmiah, akan tetapi sanggup dilihat dalam perilaku dan prilaku setiap muslim sebagai aktualisasi Islam dalam keseharian, hingga muncul sosok-sosok al-Qur’an berjalan menyerupai yang pernah dilakukan Rasulullah Saw beberapa kala silam.
Sumber http://somadmorocco.blogspot.co.id/


EmoticonEmoticon