Senin, 12 Mei 2014



Ada beberapa ungkapan yang familiar di indera pendengaran kita, sebagian orang menganggapnya hadits. Tapi para jago hadits mengkritik ungkapan tersebut bersumber dari Rasulullah Saw. Diantaranya adalah:
Kenal Diri, Kenal Tuhan.
 Siapa yang mengenal dirinya, maka sungguh ia telah mengenal Tuhannya”.
Imam Ibnu Hajar al-Haitsami ditanya wacana hadits, “Siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya”. Siapakah yang meriwayatkannya? Imam Ibnu Hajar al-Haitsami menjawab, “Hadits ini tidak ada asalnya (tidak ada sanadnya). Diriwayatkan dari ucapan Yahya bin Mu’adz ar-Razi ash-Shufi. Maknanya, “Siapa yang mengetahui bahwa dirinya lemah, butuh, kurang, hina dan rapuh. Maka ia telah mengenal Tuhannya dengan sifat keagungan dan keindahan serta sifat yang layak bagi keduanya (agung dan mulia). Maka ia terus merasa diperhatikan Tuhan Swt (muraqabatullah) sampai Tuhan Swt membukakan baginya pintu musyahadah, maka hamba itu pun menjadi salah satu dari orang-orang pilihan yang Ia berikan kepada mereka ma’rifatullah (pengetahuan wacana Tuhan Swt). Ia pakaikan kepada mereka pakaian kesucian khalifah-Nya”. (Imam Ibnu Hajar al-Haitsami, al-Fatawa al-Haditsiyyah, hal.206).
Imam as-Suyuthi berkata, Riwayat ini tidak shahih. Imam an-Nawawi pernah ditanya wacana hadits ini dalam fatwanya, dia menjawab, “Tidak kuat”. Ibnu Taimiah dan az-Zarkasyi berkata dalam kumpulan hadits populer, “Ibnu as-Sam’ani menyebutkan bahwa ini ucapan Yahya bin Mu’adz ar-Razi”. (Imam as-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawa, juz.III, hal.355).
Makna hadits ini berdasarkan Imam Abu Thalib al-Makki dalam kitab Qut al-Qulub, maknanya, “Jika engkau telah mengetahui sifat-sifat dirimu dalam berinteraksi dengan makhluk, engkau tidak suka ditolak dalam hal perbuatanmu, engkau tidak suka dicela atas apa yang engkau lakukan. Maka dari itu engkau pun mengetahui sifat Tuhanmu, Ia tidak juga tidak suka penolakan dan celaan, maka ridhalah dengan ketetapan-Nya, berinteraksilah dengan-Nya dengan cara yang engkau suka bila cara itu digunakan untuk beriteraksi denganmu”.
Makna hadits ini berdasarkan Imam an-Nawawi, “Siapa yang telah mengetahui bahwa dirinya lemah, butuh dan menghambakan diri kepada Allah. Maka ia telah mengetahui bahwa Tuhannya itu besar lengan berkuasa dan layak disembah serta tepat secara mutlak dan mempunyai sifat-sifat yang agung”.
Aku Ingin Dikenal.
 Aku ialah harta peninggalan yang tidak dikenal. Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk, kemudian Aku buat mereka mengenal aku, maka mereka pun mengenal aku”.
Ibnu Taimiah berkata, “Bukan hadits nabi. Tidak diketahui ada sanadnya, apakah shahih atau pun dha’if”. Pendapat ini diikuti Imam az-Zarkasyi dan syekh kami (al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani)”. (Imam as-Sakhawi, al-Maqashid al-Hasanah fi Bayan Katsir bin al-Ahadits al-Musytahirah ‘ala al-Alsinah,  hal.521)
Nur Muhammad Saw.
“Wahai Jabir, sebetulnya sebelum Tuhan membuat segala sesuatu, ia ciptakan nur nabimu dari nur-Nya. Ketika Tuhan ingin membuat makhluq, nur itu ia bagi menjadi empat: dari nur yang pertama ia ciptakan qalam. Dari nur yang kedua ia ciptakan Lauhul Mahfuzh. Dari nur yang ketiga ia ciptakan ‘Arsy. Kemudian nur yang keempat ia bagi menjadi beberapa bagian. Dari nur yang pertama ia ciptakan langit. Dari nur yang kedua ia ciptakan bumi. Dari nur yang ketiga ia ciptakan nirwana dan neraka. Kemudian nur yang keempat ia bagi menjadi empat. Dan seterusnya”.
Komentar jago hadits terhadap hadits ini, Syekh Abu al-Faidh Ahmad al-Ghumari berkata dalam kitabnya berjudul al-Mughir ‘ala al-Ahadits al-Maudhu’ah fi al-Jami’ ash-Shaghir, “Hadits palsu. Andai disebutkan secara keseluruhan, orang yang melihatnya tidak akan ragu untuk menyampaikan bahwa hadits ini palsu. Kelanjutan hadits ini lebih kurang dua halaman besar, berisi kata-kata yang rancu dan makna yang munkar”. Dijelaskan Syekh Rasyid Ridha dalam Fatwanya (2/447), bahwa hadits ini tidak ada asalnya (tidak ada sanadnya). Sebelum mereka, Imam as-Suyuthi pernah ditanya wacana hadits ini, ibarat yang disebutkan dalam al-Hawy li al-Fatawa (1/323), ia berkata, “Hadits wacana pertanyaan Jabir, tidak ada sanadnya yang sanggup dijadikan pegangan”.
Alam Semesta Karena Nabi Muhammad Saw.
“Kalaulah bukan karenamu (wahai Muhammad), tidak akan Aku ciptakan alam semesta”.
Komentar ulama jago hadits wacana hadits ini, Imam al-‘Ajluni dalam kitab Kasyf al-Khafa wa Muzil al-Ilbas ‘an ma Isytahara min al-Ahadits ‘ala Alsinati an-Nas menyebut hadits ini dan mengutip pendapat Imam ash-Shaghani, “Hadits Maudhu’ (palsu)”. Demikian juga dengan Imam asy-Syaukani dalam al-Fawa’id al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah, dia kutip pendapat Imam ash-Shaghani, “Hadits Maudhu’ (palsu)”.
Nabi Adam as Ada Karena Nabi Muhammad Saw.
Kalau bukan alasannya Muhammad, saya tidak akan membuat Adam. Kalau bukan alasannya Muhammad, saya tidak membuat nirwana dan neraka”.
Komentar jago hadits terhadap hadits ini, Imam adz-Dzahabi berkata, “Menurut saya ini hadits Maudhu’ (palsu) yang dinisbatkan kepada Sa’id”. Maksudnya ialah Sa’id bin Abi ‘Arubah (salah seorang periwayat hadits). Yang meriwayatkan hadits ini dari Sa’id ialah ‘Amr bin Aus al-Anshari, ia tertuduh sebagai pembuat hadits palsu. Disebutkan Imam adz-Dzahabi dalam kitab Mizan al-I’tidal, ia berkata, “Amr bin Aus meriwayatkan khabar munkar”, kemudian dia sebutkan hadits ini. Imam adz-Dzahabi berkata, “Menurut saya ini hadits palsu”. Disetujui oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani, sebagaimana yang disebutkan dalam Lisan al-I’tidal.
Hadits Shahih Awal Penciptaan.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan at-Tirmidzi dengan sanad shahih, dari ‘Ubadah bin ash-Shamit, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya yang pertama diciptakan Tuhan ialah Qalam (pena). Lalu Tuhan berfirman kepada Qalam, “Tulislah”. Qalam menjawab, “Wahai Tuhanku, apa yang akan saya tulis?”. Tuhan berfirman, “Tulislah ketetapan segala sesuatu sampai hari kiamat”.
Manusia itu Rahasia-Ku.
Manusia itu ialah rahasia-Ku dan Aku ialah belakang layar manusia”.
Dalam buku berjudul al-Ghautsiyah, ada yang menisbatkan buku ini kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani, tapi penisbatan ini palsu. Dalam al-Ghautsiyyah disebutkan, “Allah berkata kepadaku, “Wahai wali Ghauts (penolong) yang agung. Aku jadikan insan sebagai tempat-Ku. Manusia itu rahasia-Ku dan Aku ialah rahasianya. Kalaulah insan mengetahui tempatnya di sisiku, pastikah setiap yang bernyawa akan berkata, “Siapakah yang mempunyai kuasa hari ini?”. Manusia tidak akan makan, tidak akan minum, tidak akan berdiri, tidak akan duduk, tidak akan bicara, tidak akan diam, tidak melaksanakan suatu perbuatan, tidak menghadap sesuatu, tidak meninggalkan sesuatu, melainkan saya di dalam dirinya, dikala ia membisu atau bergerak. Tubuh manusia, hatinya dan ruhnya. Semua itu saya faktual baginya, jiwa dengan jiwa, tidak ada dia melainkan aku, tidak ada saya selainnya”. (al-Ghautsiyyah, hal.5).
Jelas kalimat ini mengandung makna bahwa dewa bersatu dengan manusia. Tuhan mengambil daerah dalam diri manusia. Keyakinan ibarat ini berasal dari filsafat Yunani fatwa Pantheism (aliran yang meyakini makhluk bersatu dengan tuhan), masuk ke Jawa dengan nama Manunggaling Kawula Gusti (tuhan menyatu dengan makhluk). Walisongo memancung kepala Siti Jenar alasannya fatwa ini bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah.
Awal Agama, Mengenal Allah.
Teks yang berbunyi, “Awal agama ialah mengenal Allah”. Ini bukan hadits. Tapi ucapan Imam Ali dalam riwayat golongan Syi’ah. Dari Amirul Mu’minin Ali, “Awal agama ialah mengenal Allah. Sempurna pengenalannya ialah mempercayainya. Sempurna kepercayaan ialah mengesakannya. Sempurna keesaan ialah menafikan sifat darinya. Siapa yang mensifati Allah, berarti ia telah membandingkan Tuhan dengan yang lain. Siapa yang membandingkan Allah, berarti ia telah menyampaikan dewa itu dua. Siapa yang mengatakannya dua, maka ia telah membaginya. Siapa yang membaginya, maka ia tidak mengenalnya. Siapa yang tidak mengenalnya, maka ia menunjuknya. Siapa yang menunjuknya, maka telah memberi batasan terhadapnya. Siapa yang memberi batasan baginya, maka sungguh ia telah menghitungnya (berbilang)”. [‘Aqa’id al-Imamiyyah al-Itsna ‘Asyriyyah (‘Aqidah Syi’ah fatwa Dua Belas Imam), hal.24].
Ini tidak benar ucapan Imam Ali. Riwayat ini untuk melawan al-Qur’an dan Sunnah yang menetapkan sifat-sifat bagi Tuhan Swt.
Semoga kita lebih selektif dalam mendapatkan dan memberikan hadits, alasannya menisbatkan yang bukan hadits kepada Rasulullah Saw berarti telah menyiapkan daerah duduk dari api neraka. “Siapa yang berdusta terhadapku secara sengaja, maka siapkanlah daerah duduk dari api neraka”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Sumber http://somadmorocco.blogspot.co.id/


EmoticonEmoticon